http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png

Minggu, 03 November 2013

QUO VADISE BUMI KALIMANTAN II




Oleh : Arie Yannur


Kalimat ini mungkin sudah sangat cocok untuk menggambarkan keadaan Alam Kalimantan saat ini, bagaimana tidak ,hampir 80% Alam Kalimantan beranjak menuju kehancuran. Tiap sudut di hampir semua daerah Kalimantan di eksploitasi secara membabi buta, Kelestarian ekosistem alam ini terkoyak, semua hanya dengan satu kata demi percepatan pembangunan. Para pemegang otoritas seolah lupa bahwa Investasi harus berjalan sesuai dengan norma-norma serta kaidah-kaidah keseimbangan, apa gunanya pembangunan bila kelestarian ekosistem hancur, apa artinya pembangunan bila pada akhirnya para kaum pribumi juga terpinggirkan, hak-hak mereka terampas oleh kerakusan para pengusaha.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa Kalimantan sebagai Pulau terbesar ketiga didunia memegang peranan penting terhadap dampak Global Warming ( Pemanasan Global ) ,hal ini tentunya harus kita perhatikan dengan seksama, karena Hutan Hujan Kalimantan saat ini berada pada posisi yang sangat memprihatinkan, era 70 sampai 90an hutan Kalimantan di eksploitasi melalui HPH yang kesemuanya melakukan kontrak Karya dengan negara, belum lagi pelaku Illegal Loging, keduanya setali tiga uang pandai mengambil hasil namun lupa tentang kewajibannya untuk melakukan reboisasi, yang sangat membuat kami miris sebagai Penduduk Pribumi adalah menjadi kambing hitam atas kerusakan hutan yang ada, mulai peladang berpindah sampai penduduk yang mencari makan melalui Chain Saw, yang hanya mencari 1-2 kubik untuk dijual, sebagai sarana bertahan hidup keluarga, itulah yang selama ini dijadikan sasaran pelaku kerusakan yang ada.


Saat ini Hutan Kalimantan kembali dihancurkan ,oleh pelaku pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, Kalimantan seolah tak bertuan lagi, penduduk asli makin terhimpit , ketika para pribumi melakukan perlawanan atas ketidak adilan saat itu pula mereka harus berhadapan dengan aparat kepolisian yang seharusnya menegakkan hukum, diatas norma hukum, namun yang ada saat ini semua terbalik hukum bisa tegak ketika ada nilai didepan mata.


Pemegang otoritas, Eksekutif,Legeslatif serta Yudikatif didaerah ini seolah tidak lagi mempunyai mata hati, hal itu dapat dilihat dari semakin maraknya Ijin-ijin diterbitkan, Aparat lupa akan pungsinya, menjaga keamanan masyarakat, namun yang terjadi sekarang justru menjadi pengamanan para pengusaha, semuanya sangat memprihatinkan.


Lalu bila kita Evaluasi kata percepatan pembangunan tersebut , justru kita dapati prosentasi yang keliru, Inprastruktur Kalimantan tertinggal, Pendidikan tertinggal, begitu pula dengan laju pertumbuhan ekonomi kita, juga tertinggal hanya dengan daerah seperti bali yang hanya mengandalkan sektor Pariwisata saja.

Dimana keberhasilan yang katanya bisa kita proleh dengan banyaknya eksploitasi dan ekplorasi Sumber Daya Alam Kalimantan ini ..? jawabnya adalah kebohongan belaka, Eksekutif,Legeslatif serta Yudikatif terkesan berkomplot dengan para Mafia yang hanya mencari Profit atas usahanya.


Akhirnya kami berpendapat bahwa harus segera dilakukan gerakan oleh semua anak-anak Kalimantan, untuk melakukan perlawanan atas ketidak adilan ini. ” Bangkit melawan atau tertunduk diam dan kehilangan harga diri sebagai Orang Kalimantan” ……!!!!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar