http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png

Kamis, 24 Oktober 2013

" LOM PLAI " Ritual Pembukaan Lahan ala Suku Dayak Wahea



Oleh : Arie Yannur
Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Timur,khususnya Suku Dayak Wehea di Desa Benhes Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur ,Provinsi Kalimantan Timur akan menggelar doa ritual khusus sebagai penutup dari Pesta Lom Plai yang merupakan pesta padi, ditahun 2013.
Tokoh adat Dayak Wehea, Kristian, mengatakan bahwa masa panen yang dalam tradisi masyarakat Wehea biasanya disebut Lom Plai,menurutnya Lom artinya Pesta dan Plai artinya Padi, Tradisi itu digelar setiap tahun mulai April sampai Mei dan harus ditutup dengan kegiatan ritual doa agar tahun berikutnya hasil padi dapat lebih maksimal dan sesuai harapan.

Acara Ritual atau doa penutup Lom Plai dan pembukaan kebun atau ladang baru bagi suku Dayak Wehea bisanya disebut juga `bob jengia` acara tersebut biasanya dipimpin oleh Kepala Adat Besar Dayak Wehea.
Pada saat dilakukannya ritual dan doa oleh kepala Adat Besar Suku Dayak Wehea, Wang Lung Langet, masyarakat adat wehea tidak diperkenankan melakukan kegiatan apapun yang berkaitan dengan " kerusakan bumi dan hutan" ujarnya
"Sebelum ritual doa dilakukan, masyarakat dilarang melakukan kegiatan yang merusak bumi, seperti menebang pohon, memotong rumput, menggali tanah dan membakar lahan," ujar Kristian

Ledjie Taq, Kepala Adat Suku Dayak Wehea, Desa Nehas Liah Bing, mengatakan, "bob jengia" yang dilaksanakan selama sebulan sebagai masa jeda atau biasa disebut Naq Heyang merupakan rangkaian dari ritual Lom Plai.

Ia mengatakan sebelum "bob jengia" selesai dilaksanakan tidak boleh ada kegiatan masyarakat menebang pohon, membabat hutan dan atau merusak bumi termasuk membakar lahan.

"Setelah ritual doa selesai, masyarakat dibolehkan membuka lahan untuk menanam padi dan sayuran, namun harus hati-hati agar bumi ini tidak rusak," ucap Ladjie Taq.
Mengelola lingkungan dan bumi bagi masyarakat Suku Dayak Wehea,sudah dilaksanakan jauh sebelum pemerintah mengeluarkan peraturan tentang hutan Wehea sebagai kawasan hutan lindung,lanjut Ladjie Tag

"Kami masyarakat Dayak Wehea tidak berani merusak bumi, tanah dan hutan beserta isinya serta makhluk yang hidup di atasnya," katanya.
Bagi Masyarakat Dayak Wehea, sebelum mengambil sesuatu dari alam, harus ingat memberi sesaji kepada penunggu bumi dan penunggu hutan setempat, dengan maksud agar selama menggarap diberikan rejeki dan aman dari gangguan hama,dan ini juga bagian dari cara kami menghormati alam ,Pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar